JAKARTA, wberita.com ! Tangis haru pecah di tribun Emirates Stadium. Setelah 7.300 hari menunggu, Arsenal akhirnya kembali ke final Liga Champions. Momen itu datang lewat kaki Bukayo Saka, yang jadi algojo di menit 43 saat The Gunners menaklukkan Atletico Madrid 1-0, Rabu (6/5/2026) dini hari WIB.
Kemenangan ini mengunci agregat 2-1 untuk Arsenal. Sebuah hasil yang bukan cuma soal angka, tapi soal penebusan luka selama dua dekade.
*Leg Pertama: Peringatan yang Diabaikan*
Semua orang ingat leg pertama di Madrid. Arsenal sempat unggul dulu lewat Gabriel Martinelli, tapi Atletico yang terkenal bandel bisa menyamakan 1-1 lewat sundulan Alexander Sorloth di menit 89. Hasil itu bikin Mikel Arteta waspada. “Di Madrid, mereka bisa mematikanmu tanpa kamu sadar,” katanya sebelum laga.
Dan benar. Sejak peluit awal dibunyikan, Atletico langsung pasang perangkap maut. 11 pemain di belakang bola. Parkir bus level dewa.
Emirates yang malam itu berdandan penuh warna merah tak henti bernyanyi. “We want the final!” Teriakan itu jadi bahan bakar Arsenal.
Dominasi langsung terlihat. 60% bola ada di kaki Arsenal. Odegaard atur tempo, Declan Rice jadi tembok di tengah, sementara Lewis-Skelly dan Calafiori rajin naik bantu serangan dari sisi.
Tapi Atletico bukan tim sembarangan. Menit 7, Julian Alvarez hampir bikin jantung 60 ribu penonton berhenti. Lepas dari jebakan offside, ia tinggal hadapi David Raya. Untung, bola sepakan penyerang Argentina itu melenceng tipis.
Arsenal balas. Menit 20, Calafiori coba peruntungan dari 30 meter. Bola melesat kencang tapi masih digapai Jan Oblak. Menit 25, Myles Lewis-Skelly kirim umpan cutback yang manis ke depan gawang. Sayang, tidak ada satu pun jersey merah yang berdiri di tempat yang tepat.
Tekanan terus berlanjut. Gabriel Magalhaes ikut maju dan lepas tembakan jarak jauh. Lagi-lagi Oblak jadi penghalang. Atletico bertahan mati-matian, tapi satu celah cukup untuk membunuh mereka.
Trossard dapat bola di sisi kiri. Ia gocek satu pemain, lalu lepaskan tembakan keras ke arah gawang. Oblak yang selama ini jadi tembok kokoh akhirnya goyah. Bola muntah.
Di sanalah Bukayo Saka muncul. Seperti predator, ia berdiri di posisi paling berbahaya. Tanpa berpikir dua kali, Saka menyambar bola _rebound_ itu. JALA BERGETAR! 1-0!
Emirates meledak. Saka langsung lari ke sudut lapangan, buka jersey, cium lambang Arsenal di dada. 60 ribu suara bersatu jadi satu: “SA-KA! SA-KA! SA-KA!”
Gol itu mengubah agregat jadi 2-1. Dan yang lebih penting, gol itu mengubah raut wajah para pemain Arsenal. Dari tegang, jadi percaya diri.
Diego Simeone bukan pelatih yang gampang menyerah. Babak kedua dimulai, ia tarik keluar dua gelandang bertahan dan masukkan Sorloth serta Angel Correa. Atletico berubah jadi singa yang terluka.
Menit 50, kemelut terjadi di depan gawang Arsenal. Bola liar memantul tiga kali di kotak penalti. Correa nyaris menyontek bola masuk, tapi William Saliba dengan kaki panjangnya sapu bola tepat di garis gawang.
Arsenal balas. Menit 65, umpan silang Odegaard menemui kepala Viktor Gyokeres. Tandukannya keras, mengarah ke pojok gawang. Tapi sekali lagi, Oblak terbang seperti kucing dan tepikan bola ke atas mistar.
Waktu terus berjalan. Atletico makin panik, makin ngot. Menit 88, momen paling menegangkan terjadi. Sorloth terima bola di dalam kotak penalti. Dalam jarak 8 meter, ia lepaskan tembakan keras yang pasti gol.
Tapi Gabriel Magalhaes punya rencana lain. Dengan tubuh 193cm, ia pasang badan dan blok tembakan itu. Bola mental. Emirates bergemuruh seperti gunung meletus. Blok itu bukan sekadar blok. Itu adalah blok yang mengamankan mimpi 20 tahun.
Ketika wasit meniup peluit akhir, emosi tak terbendung. Declan Rice langsung duduk di lapangan sambil menutup wajah. Martin Odegaard menangis dipeluk Zinchenko. Mikel Arteta berlari ke arah tribun, mengepalkan tangan.
Arsenal menang 1-0. Agregat 2-1. Final Liga Champions adalah milik mereka.
Kali terakhir Arsenal ke final UCL adalah tahun 2006. Saat itu mereka masih diperkuat Thierry Henry, Patrick Vieira, dan dilatih Arsene Wenger. Saat itu, Saka bahkan belum lahir.
20 tahun. 20 tahun gagal, 20 tahun dihina, 20 tahun dijuluki “tim gagal”. Semua itu sirna malam ini.
Kini, Mikel Arteta membawa Arsenal kembali ke panggung terbesar Eropa. Lawan di final? Masih menunggu pemenang antara Real Madrid vs Bayern Munich.













