JEMBRANA, wberita.com ! Putu Saputra Adinata alias Putu Gading, ternyata pernah bercerita punya masalah di Banyuwangi dengan Ketut Budi Adnyana alias Ngurah Bego, bapak kadungnya.
Ditemui di rumah salah satu kerabatnya, Ngurah Bego menuturkan, awalnya Putu Gading ke Bayuwangi membawa sepeda motor Yamaha N-Max warna hitam milik Komang Kusuma Jaya alias Bentar. Namun dia mengaku lupa hari dan tanggalnya.
“Saya tanya ke dia (Putu Gading) kenapa ke Banyuwangi membawa motor milik Bentar dan dijelaskan kalau Bentar yang menyuruh untuk ganti skok,” tutur Ngurah Bego, Rabu (19/3/2025).
Waktu itu menurut Ngurah Bego, anaknya di Banyuwangi hanya menginap satu malam. Besoknya dia kembali pulang ke rumah dengan membawa kembali sepeda motor milik Bentar.
Namun beberapa hari kemudian dia (Putu Gading) kembali ke Banyuwangi dengan membawa sepeda motor milik Bentar. Tapi saat kembali keesokan harinya Putu Gading pulang ke rumah tanpa membawa sepeda motor Bentar.
Lantaran anaknya pulang tidak membawa motor Bentar, Ngurah Bego kemudian menanyakan keberadaan motor bentar yang sebelumnya dibawa ke Banyuwangi.
“Anak saya bilang motor bentar ditahan oleh iparnya di Banyuwangi karena anaknya katanya punya hutang dengan iparnya,” ujar Ngurah Bego.
Pengakuan anaknya itu membuat Ngurah Bego kaget. Kemudian Ngurah Bego meminta anaknya untuk mencari solusi agar sepeda motor Bentar bisa diambil kembali.
“Kata anak saya, sementara Bentar dikasi motor anak saya dulu sebelum motornya yang ditahan oleh iparnya bisa ditebus,” tutur Ngurah Bego.
Karena itulah, motor Yamaha N-Max warna putih milik Putu Gading kemudian diserahkan kepada Bentar sebagai pengganti sementara motor Bentar yang ditahan oleh ipar anaknya.
Hingga suatu hari sebelum kejadian, anaknya kembali ke Banyuwangi seorang diri dengan membawa motor N-Max warna putih milik Putu Gading untuk ditukar dengan motor Bentar yang ditahan oleh iparnya.
Namun upaya menukar sepeda motor tersebut gagal karena ipar Putu Gading tidak mau ditukar motornya sebagai jaminan hutang.
Selanjutnya pada Minggu, 9 Maret 2025 itulah menurut Ngurah Bego, anaknya bersama Bentar kembali ke Banyuwangi dengan mengendarai sepeda motor milik Putu Gading untuk menebus motor milik Bentar. Namun bukannya membawa motor Bentar pulang, melainkan Bentar ditemukan meninggal.
Ngurah Bego juga menuturkan, dirinya tidak mengenal ipar anaknya (Putu Gading) dan termasuk tidak pernah berkomunikasi dengan besannya yang di Banyuwangi.
“Saya hanya pernah ke rumah menantu di Banyuwangi hanya sekali dan hampir tidak pernah berkomunikasi dengan menantu dan besan saya,” ujarnya.
Dia juga membenarkan jika anaknya itu telah pindah kependudukan mengikuti istrinya dan telah memeluk Agama Islam. Saat anaknya ditemukan mati gantung diri, dia berusaha untuk berkomunikasi dengan menantunya agar jenasah anaknya bisa dibawa ke Bali untuk diaben.
Namun istri Putu Gading tidak mengijinkan dan akan dikubur di Banyuwangi karena Putu Gading sudah menjadi warga Wongsorejo dan sudah syah memeluk Agama Islam.
“Ada permintaan saya kepada menantu saya agar anak saya dikubur dengan layak,” pungkasnya.(dar)













