JEMBRANA, wberita.com ! Kebijakan belajar daring yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Kabupaten Jembrana terhadap satuan Pendidikan Paud, SD dan SMP, sejak 17 Oktober 2026, imbas dari kelangkaan BBM di Bali ternyata cukup membuat pengusaha MBG di Jembrana meradang.
Mereka mengaku sangat dirugikan dengan kebijakan belajar daring yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jembrana secara mendadak, akibat imbas dari kelangkaan BBM di Bali. Kerugian mencapai Rp 30 juta per hari untuk masing-masing dapur MBG.
“Kami sudah selesai belanja bahan-bahan, relawan juga sudah bekerja untuk persiapan pelayanan kepada siswa besok pagi. Tiba-tiba ada kebijakan belajar daring, jelas kami merugi,” ujar Komang Wiasa, salah satu pemilik dapur MBG di Jembrana, Rabu 14 Oktober 2026.
Menurut Komang Wiasa, dirinya memaklumi kebijakan belajar secara daring untuk tingkat PAUD, SD dan SMP di Jembrana, namun mestinya jangan dilakukan secara mendadak. Mestinya sehari sebelumnya dikordinasikan kepada pihak MBG sehingga tidak terlanjur belanja bahan.
“Kalau kita gunakan bahan-bahan sayuran atau dangin yang diawetkan itu kurang baik untuk kesehatan siswa. Mestinya ada pemberitahuan sebelumnya sehingga tidak terlanjur belanja,” imbuhnya.
Dia juga menyayangkan pihak KPPG Provinsi Bali yang tidak memberikan instruksi ke bawah. Mestinya KPPG Provinsi Bali memberikan instruksi kepada kordinator kabupaten untuk diteruskan ke masing-masing kecamatan dan selanjutnya diteruskan ke masing-masing dapur MBG.
Selain itu menurut Komang Wiasa, pihak yang paling bertanggungjawab atas hal parah ini adalah pihak Pertamina. Menurutnya pihak Pertamina berpotensi bisa digugat atas kerugian di sektor usaha, termasuk pengusaha MBG (pemilik dapur).
“Jika kondisi seperti ini tetap berlanjut tidak menutup kemungkinan kami ajukan demosi atau gugatan kepada pihak Pertamina,” pungkasnya.(dar)













