JEMBRANA, wberita.com ! Kabar duka menyelimuti para peternak sapi di Kabupaten Jembrana, Bali. Penyakit aneh dengan gejala bentol-bentol menyerupai kurap mulai menyerang puluhan ternak warga hingga menyebabkan kematian.
Peristiwa memilukan salah satunya terjadi di Banjar Bendel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya. Seekor anak sapi berumur tiga bulan mati mendadak pada 4 Januari 2025 lalu setelah sekujur tubuhnya dipenuhi bentol hebat dan kondisinya terus memburuk.
“Kami ini peternak kecil, sapi itu harapan hidup kami. Kalau tidak segera ditangani, saya takut (sapi lain) mati juga seperti kemarin,” ujar salah satu pemilik sapi, Ketut Suwita, dengan nada lirih saat ditemui di kandangnya.
Kondisi serupa ditemukan di titik lain di Desa Manistutu. Seekor anak sapi tampak memprihatinkan dengan kulit rusak, badan kurus, dan hilang nafsu makan. Berdasarkan informasi di lapangan, penyakit misterius ini diduga telah menyebar ke sedikitnya lima desa di Jembrana dengan jumlah ternak terjangkit mencapai 28 ekor.
Merespons keresahan warga, Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengaku telah menerjunkan tim ke lapangan. Namun, ia menekankan pihaknya belum bisa memastikan apakah fenomena ini adalah wabah Lumpy Skin Disease (LSD).
“Sesuai di lapangan, kami belum berani memastikan itu dugaan LSD. Karena Bali ini kan bebas LSD. Ada penyakit lain yang mirip akibat perubahan cuaca, misalnya demodikosis,” jelas Sugiarta saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).
Sugiarta menjelaskan bahwa meski gejala klinis menunjukkan kemiripan, pemeriksaan mendalam mutlak diperlukan. Ia berencana menggandeng Balai Besar Veteriner (BBVet) untuk melakukan uji sampel darah.
“Kalau laporan sapi mati itu ada, karena penyakit sapi itu banyak. Kelihatannya tidak mematikan, tetapi stresnya yang mengakibatkan mati, apalagi kalau masih anakan,” imbuhnya.
Sugiarta mengimbau masyarakat agar tidak panik secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa penyakit kulit seperti LSD menular antar-hewan melalui perantara nyamuk dan lalat, bukan melalui udara.
“Penyakit ini tidak menular ke manusia (bukan zoonosis) dan dagingnya masih bisa diolah,” tegasnya.
Sejauh ini, data resmi Dinas Pertanian mencatat ada sekitar 7 ekor sapi yang dilaporkan mengalami gejala serupa, dan beberapa di antaranya dilaporkan telah sembuh. Sebagai langkah darurat, petugas telah melakukan penyemprotan (spraying) disinfektan di lokasi-lokasi temuan kasus.
“Setiap laporan kita tindak lanjuti dengan pemberian disinfektan. Kami imbau peternak waspada karena perubahan musim ini pemicu banyaknya penyakit. Untuk tindakan lebih lanjut, kami tunggu hasil sampel darah dulu,” pungkas Sugiarta.













