BADUNG — Nama PT Bianglala Bali kembali menjadi perhatian publik setelah perusahaan konstruksi tersebut ditetapkan sebagai pemenang tender proyek pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali di kawasan Kuta dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp131.105.658.871 atau Rp131,1 miliar lebih.
Kemenangan tender bernilai jumbo itu langsung memantik reaksi masyarakat. Pasalnya, publik belum melupakan kontroversi proyek renovasi penyengker Pantai Seminyak, Legian, dan Kuta di Kecamatan Kuta yang dikerjakan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Badung Tahun Anggaran 2023 senilai Rp27,3 miliar.
Proyek tersebut sempat viral dan menjadi bahan sindiran luas di media sosial lantaran hasil bangunan candi bentar yang tampak tidak simetris, miring, bahkan disebut masyarakat sebagai “candi bentar-bentir” dan “besar sebelah”. Foto-foto bangunan itu kala itu menyebar luas di berbagai platform digital hingga menuai komentar pedas dari netizen yang menilai estetika bangunan Bali tercoreng oleh proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Alih-alih tenggelam usai polemik itu, PT Bianglala Bali justru kini kembali dipercaya menggarap proyek prestisius pemerintah daerah dengan nilai anggaran jauh lebih besar.
Berdasarkan data tender yang beredar, proyek pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali memiliki total pagu anggaran sekitar Rp145,7 miliar dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) mencapai Rp133,79 miliar. Dari proses lelang tersebut, PT Bianglala Bali keluar sebagai pemenang dengan nilai penawaran Rp131,1 miliar lebih.
Museum Taman Perdamaian Bali sendiri dirancang menjadi salah satu ikon baru di kawasan Kuta. Proyek ini akan dibangun sebagai pusat edukasi, sejarah, memorial, dan ruang publik yang mengangkat pesan perdamaian dunia. Bangunan museum direncanakan dilengkapi berbagai fasilitas modern mulai dari ruang pameran, ruang multimedia, area memorial, auditorium, ruang terbuka hijau hingga fasilitas basement bertingkat.
Dengan nilai proyek mencapai ratusan miliar rupiah, sorotan publik terhadap rekam jejak kontraktor pun kembali menguat. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana proses evaluasi kualitas pekerjaan sebelumnya dilakukan dalam sistem tender pemerintah, mengingat proyek “candi bentar-bentir” sempat menjadi simbol buruknya pengawasan konstruksi yang viral hingga menjadi bahan tertawaan di dunia maya.
Di media sosial, sejumlah warga kembali mengunggah dokumentasi proyek penyengker Pantai Kuta sambil menyandingkannya dengan kabar kemenangan tender Museum Taman Perdamaian Bali. Tidak sedikit yang mempertanyakan komitmen kualitas pembangunan di Bali, terlebih proyek baru tersebut akan menjadi salah satu bangunan representatif di destinasi pariwisata internasional.
Fenomena ini juga memunculkan perdebatan soal sistem pengadaan proyek pemerintah. Sebagian masyarakat menilai proses tender tidak semata-mata cukup melihat kelengkapan administrasi dan penawaran harga, tetapi juga harus mempertimbangkan kualitas pekerjaan terdahulu, aspek estetika, hingga kepuasan publik terhadap hasil pembangunan.
Apalagi Bali dikenal sebagai daerah yang sangat menjunjung nilai arsitektur tradisional dan estetika budaya. Karena itu, proyek-proyek strategis yang dibangun menggunakan uang rakyat dinilai seharusnya mampu mencerminkan kualitas, presisi, dan identitas budaya Bali secara utuh.
Kini publik menunggu apakah proyek Museum Taman Perdamaian Bali akan menjadi momentum pembuktian bagi PT Bianglala Bali untuk memperbaiki citra perusahaan, atau justru kembali melahirkan polemik baru seperti kasus “candi bentar-bentir” yang sempat menghebohkan jagat media sosial beberapa waktu lalu.













