Ads Wberita
Ads Wberita
Ads Wberita

Di Banyuwangi Bentar Sempat Ditinggal Pergi Putu Gading, Berikut Penuturan Ngurah Bego

Ket foto : Ketut Budi Adnyana alias Ngurah Bego, bapak kandung Putu Saputra Adinata alias Putu Gading.
Ads Wberita

JEMBRANA, wberita.com ! Kematian Komang Kusuma Jaya alias Bentar (37), warga Banjar Wali, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, masih menjadi misteri.

Polisi dari Polresta Banyuwangi masih melakukan penyelidikan secara intensif. Namun, hingga kini mereka belum juga berhasil memecahkan misteri tersebut. Terlebih Putu Saputra Adinata alias Gading yang disebut-sebut saksi kunci justru ditemukan tewas tergantung.

Ads Wberita

Berbagai macam penafsiran atau praduga muncul di masyarakat, terutama di lingkungan koban Bentar tinggal. Salah satunya, berkembang isu dugaan keterlibatan Ketut Budi Adnyana alias Ngurah Bego yang tiada lain adalah bapak kandung dari Putu Gading.

Warga menduga-duga, Ngurah Bego mengetahui terkait misteri kematian Bentar. Pasalnya, Putu Gading sempat pulang ke rumah orang tuanya sebelum mayat Bentar ditemukan. Bahkan Putu Gading kabur dari rumahnya yang berlokasi di Banjar Kaleran, Desa Yehembang, setelah diberikan uang oleh Ngurah Bego Rp 3,5 juta.

Menjawab dugaan-duaan yang muncul di masyarakat, redaksi wberita.com berhasil menemui Ngurah Bego di salah satu rumah kerabatnya di Banjar Wali, Desa Yehembang. Saat diwawancarai, Ngurah Bego kemudian menceritakan peristiwa yang diketahuinya.

“Saya sama sekali tidak terlibat dalam kematian Bentar. Saya justru tidak mengetahui Bentar mati di Jawa, tahunya setelah dikasi tahu oleh bapak Bhabinkamtibmas Yehembang,” ujarnya mengawali pembicaraan, Rabu (19/3/2025).

Ngurah Bego menuturkan, pada hari Minggu, 9 Maret 2025, sekitar jam 06.00 Wita, dia bangun dari tidur bersamaan dengan anaknya Putu Gading. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 07.30 Wita, dirinya berangkat kerja sebagai buruh serabutan. Sementara Putu Gading masih dirumah.

“Saat istirahat kerja sekitar pukul 12.00 Wita, saya pulang ke rumah untuk makan siang. Sampai rumah ternyata anak saya Putu Gading sudah tidak ada di rumah,” tuturnya.

Mengetahui anaknya tidak ada di rumah, Ngurah Bego kemudian menelpon Bentar untuk menanyakan keberadaan Putu Gading. Dia mengaku menelpon Bentar karena Putu Gading tidak punya HP dan Bentar merupakan sahabat karibnya yang selalu pergi berdua kemanapun itu.

“Saat saya telpon Bentar, dia bilang ada di Banyuwangi. Terus saya tanyakan dimana Putu Gading, Bentar bilang Putu Gading masih ke rumah temanya dan Bentar ditinggal sendiri,” imbuh Ngurah Bego.

Rupanya, di Banyuwangi saat itu Putu Gading sempat meninggalkan Bentar seorang diri untuk menemui temannya. Namun Ngurah Bego mengaku tidak tahu siapa yang ditemui oleh anaknya itu karena Bentar tidak menjelaskan secara detail terkait siapa yang ditemui oleh Putu Gading di Banyuwangi.

Usai menelpon Bentar untuk menanyakan keberadaan Putu Gading, Ngurah Bego kemudian kembali bekerja hingga sore harinya. Kemudian pada Minggu, 9 Maret 2025 sekitar pukul 23.00 Wita, anaknya Putu Gading tiba-tiba pulang ke rumah.

“Saat itu saya langsung menanyakan keberadaan Bentar, karena sebelumnya mereka pergi berdua. Anak saya bilang, Bentar langsung pulang ke rumahnya. Karena dibilang sudah pulang ke rumahnya, saya kemudian kembali tidur,” tutur Ngurah Bego.

Keesokan harinya, tepatnya pada Senin, 10 Maret 2025, pukul 07.30 Wita, seperti bisa Ngurah Bego berangkat kerja sebagai buruh. Saat berangkat kerja itu, anaknya Putu Gading Masih berada di rumah tidak melakukan aktifitas apapun.

“Barulah pada saat istirahat siang, saya pulang ke rumah untuk makan siang, saya lihat Putu Gading sudah gendong tas. Dia bilang mau ke Denpasar,” tutur Ngurah Bego.

Namun sebelum berangkat ke Denpasar, Ngurah Bego sempat memberikan uang kepada Putu Gading sebesar Rp 3.650.000. Uang itu didapatnya dari meminjam kepada Bendesa Yehembang.

“Saya suruh Putu Gading untuk membayar hutang-hutangnya dan sisanya untuk bekal ke Denpasar,” imbuhnya.

Setelah itu, Putu Gading kemudian pergi meninggalkan rumah. Sementara Ngurah Bego melanjutkan kembali pekerjaannya sebagai buruh serabutan.

“Sore harinya setelah saya selesai bekerja, bapak Bhabinkamtibmas mengabari saya kalau Bentar ditemukan meninggal di Banyuwangi,” terang Ngurah Bego.

Mendengar kabar tersebut, Ngurah Bego mengaku sangat terpukul. Dalam pikirannya, meyakini anaknya sebagai pelaku karena pergi ke Banyuwangi berdua dan Putu Gading sempat berbohong kalau Bentar juga ikut pulang dari Banyuwangi dan sudah berada di rumahnya.

Ngurah Bego kemudian mencari istrinya yang bekerja mengikat janur kelapa di kebun orang. Saat istrinya diberitahu kalau Bentar ditemukan meninggal di Banyuwangi, istrinya langsung syok berat dan mencoba bunuh diri dengan menggunakan pisau.

“Karena itulah demi keamanan, istri saya kemudian saya ajak ke Desa Asahduren, tinggal dengan saudara-saudaranya, agar ada yang mengawasi. Saya juga ikut menginap di Asahduren menjaga istri, jadi bukan kabur,” tutupnya.(dar)

 

Ads Wberita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Koenten ini Dilindungi Hak Cipta