LOMBOK TENGAH – Program yang baik akan kehilangan maknanya apabila keselamatan manusia yang menerima manfaat justru dikesampingkan. Kalimat tersebut seakan menggambarkan kegelisahan para orang tua setelah ratusan siswa di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga mengalami gangguan kesehatan seusai mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dugaan keracunan tersebut terjadi setelah makanan yang disalurkan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikonsumsi para siswa. Sejumlah korban kemudian mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Pringgarata.
Peristiwa itu mendapat perhatian serius dari Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis (APPMBGI) DPD I NTB. Pengurus organisasi tersebut turun langsung ke Puskesmas Pringgarata pada 11 September 2026 sekitar pukul 19.00 Wita untuk melihat kondisi korban sekaligus mendengarkan keterangan dari masyarakat.
Sekretaris APPMBGI DPD I NTB, Raden Imam Prasetyo dihadapan sejumlah awak media mengimbau masyarakat tetap tenang dan menjaga kondusivitas sambil menunggu hasil pemeriksaan resmi terkait kepastian mengenai penyebab kejadian diharapkan diperoleh berdasarkan data, pemeriksaan medis, dan hasil laboratorium, bukan semata-mata berdasarkan dugaan.
Pria yang akrab disapa Mas Raden itu mengatakan kunjungannya guna memastikan kondisi korban sekaligus mendengarkan secara langsung keluhan dan masukan masyarakat.
“Kami datang untuk melihat langsung kondisi korban dan mendengarkan masukan masyarakat. Insiden ini tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut keselamatan dan nyawa penerima manfaat,” tegas Raden Imam Prasetyo.
Ia menilai seluruh SPPG perlu melakukan pembenahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, anak-anak merupakan amanah bangsa sehingga penyelenggaraan MBG harus dilaksanakan secara hati-hati, disiplin, dan bertanggung jawab.
“Kami meminta SPPG terkait memberikan perhatian maksimal kepada seluruh penerima manfaat, terutama siswa yang terdampak dugaan gangguan kesehatan tersebut. Paling tidak pihak SPPG turut andil dalam pengobatan para korban,” tegas mas Prasetyo.
Berdasarkan analisis sementara APPMBGI DPD I NTB, terdapat dugaan salah satu menu mengalami penurunan kualitas dalam proses distribusi dan penyajian. SPPG yang disebut berkaitan dengan temuan tersebut ialah SPPG Yayasan Budi Sain Mangkling, Dusun Gunung Kedul, Desa Mekar Bersatu, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan para korban. Kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan resmi, termasuk pemeriksaan laboratorium oleh Dinas Kesehatan dan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) NTB.
Menurut Raden, keamanan pangan dalam program MBG tidak cukup hanya diperhatikan pada tahap akhir pengolahan makanan. Pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh sejak bahan baku dipilih, disimpan, diolah, hingga makanan didistribusikan dan dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa program MBG tidak sekadar berbicara mengenai jumlah makanan yang dibagikan kepada siswa. Di balik setiap kotak makanan terdapat kepercayaan orang tua, kesehatan anak, tanggung jawab pengelola, serta amanah negara.
“Program boleh berjalan, target boleh tercapai, tetapi keselamatan anak harus tetap menjadi prioritas utama, karena tidak ada program yang lebih berharga daripada nyawa dan kesehatan manusia.” ungkapnya.
Lebih lanjut kata mas Prasetyo, sejauh ini tidak pernah ada penanganan trauma center khusus untuk para korban keracunan dari program andalan Prabowo Gibran. “Kita berharap, pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional memberikan atensi dengan menyediakan trauma center untuk para korban terdampak keracunan,” ungkapnya.
Sementara, salah seorang wali murid korban keracunan, Muksin, mengisahkan kondisi putrinya, Azkiya Hafizatul Quran (10) siswi kelas IV SDN Beber, Desa Beber, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, menuturkan, putrinya pertama kali dibawa ke Puskesmas Pringgarata sekitar pukul 09.30 Wita, bersama ratusan korban yang lain di Puskesmas Pringgarata.
Ia menyebut sekitar 181 orang telah mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Pringgarata. Salah satu di antaranya adalah guru SDN Beber. Setelah menjalani pemeriksaan, kondisi Azkiya bersama korban lainnya sempat dinyatakan membaik oleh tim medis. Sehingga, pada pukul 14.00 Wita, mereka diperbolehkan kembali ke rumah.
Namun, kepulangan itu belum menjadi akhir dari kekhawatiran keluarga. Setibanya di rumah, kondisi Azkiya kembali menurun sehingga Muksin membawanya untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. “Sekitar pukul 19.00 Wita, Azkiya kembali dibawa ke Puskesmas Pringgarata bersama dua korban lainnya” ungkapnya pada wartawan.
Kondisi tersebut membuat kecemasan para wali murid. Dalam situasi tersebut, aparat kepolisian disebut telah mengamankan kepala SPPG guna mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Menurutnya, penanganan korban tidak semestinya menjadi satu-satunya langkah. Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan perhatian serius serta melakukan evaluasi menyeluruh apabila dalam pemeriksaan nantinya ditemukan pelanggaran.
“BGN harus memberikan perhatian serius. Jika ditemukan kesalahan, harus ada evaluasi dan tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Muksin.
Ia juga menyayangkan apabila gangguan kesehatan yang dialami para korban dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Bagi orang tua, persoalannya bukan sekadar makanan yang tidak habis dikonsumsi, melainkan menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak mereka.
“Kami para wali murid pada dasarnya mendukung pelaksanaan program MBG. Namun, dukungan tersebut harus disertai jaminan keamanan pangan dan pengawasan yang ketat pada setiap tahapan,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Inak Asmah, wali dari Aqila, siswi kelas IV SDN Beber. Ia mengatakan putrinya turut mendapatkan penanganan medis setelah mengalami mual dan muntah akibat mengkonsumsi MBG.
Aqila sempat diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan. Namun, kondisi anak tersebut kembali memburuk. Sekitar pukul 16.30 Wita, Aqila mengalami mual dan muntah muntah sehingga keluarganya kembali membawanya ke Puskesmas Pringgarata sekitar pukul 17.00 Wita.
Gejala yang sama dialami Azian Diana, salah seorang guru SDN Beber. Ia mengatakan pihak sekolah sebelumnya sempat menerima informasi dari pihak SPPG mengenai kejadian serupa di SDN Mertak Kesambik.
“Pihak SPPG sempat menghubungi sekolah kami, karena ada kejadian di SDN Mertak Kesambik, tetapi makanan sudah terlanjur dikonsumsi anak-anak,” kata Azian kepada wartawan.
Azian mengaku awalnya kondisi tubuhnya masih terasa normal. Namun, sekitar satu jam setelah mengonsumsi makanan, ia mulai merasakan mual yang kemudian disusul muntah-muntah. Akhirnya, pada pukul 17.00 Wita, Azian akhirnya mendapatkan pertolongan medis di Puskesmas Pringgarata.
Dari pantauan di lapangan, jumlah korban yang terkena keracunan massal di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berjumlah 277 orang: 181 orang berasal dari SDN Beber. Sementara di SDN Mertak Kesambik Daye 95 orang dan sisanya di SDN Repok Puyung berjumlah 1 orang.
Sejatinya, makanan bergizi tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan gizi, namun yang jauh lebih penting dari itu adalah makanan MBG harus higienis dan dipastikan aman ketika sampai di tangan anak anak saat dikonsumsi.











